TIMES KENDARI, MALANG – Di tengah rintik hujan yang turun perlahan, suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di Pondok Pesantren Rehabilitasi Mental Az Zainy, Tumpang, Kabupaten Malang, Jumat (30/1/2026).
Ratusan jamaah dari berbagai latar belakang agama dan profesi berkumpul dalam Ngaji Kebangsaan, sebuah majelis yang selama puluhan tahun konsisten merawat persaudaraan dalam keberagaman.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Wamendiktisaintek RI), Prof. Dr. Ahmad Fauzan, M.Pd yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan pesan spiritual dan kebangsaan dalam kegiatan Ngaji Kebangsaan di sana.
Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu mengajak seluruh komponen bangsa untuk tidak lelah merawat ukhuwah wathoniyah atau persaudaraan kebangsaan, yakni menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Menurut Prof Fauzan, pengajian yang dihadiri jamaah lintas agama tersebut merupakan bentuk jihad nyata dalam merawat persatuan bangsa. “Jangan lelah kita merawat perdamaian di negeri ini,” ujarnya.

Ia menegaskan, dengan merawat ukhuwah wathoniyah, bangsa Indonesia akan semakin kuat dan bermartabat dalam pergaulan dunia, serta tidak mudah dipecah belah oleh kekuatan mana pun.
“Ukhuwah wathoniyah juga merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT, karena Allah menciptakan bangsa ini dalam perbedaan,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Prof Fauzan juga memberikan apresiasi tinggi kepada pimpinan Ponpes Az Zainy, KH Zain Baik, yang dinilainya telah lebih dari 30 tahun istiqamah merawat persaudaraan lintas iman melalui pengajian rutin Jumat Pahing. Pengajian tersebut tidak hanya diikuti umat Muslim, tetapi juga perwakilan berbagai agama dan elemen masyarakat.
Selain sebagai ruang silaturahmi kebangsaan, Prof Fauzan menyebut majelis tersebut sebagai majelis ilmu. Menurutnya, dengan ilmu, Allah SWT meninggikan derajat manusia.
Sejumlah tokoh tampak hadir dalam kegiatan itu, di antaranya Wali Kota Malang Dr. Ir. Wahyu Hidayat, Bupati Jayawijaya Provinsi Papua Pegunungan Atenius Murup, S.H., M.H., tokoh pengusaha Papua Jo Rambo, Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Dr. Ir. Budiar Anwar, serta sejumlah perwakilan TNI dan Polri.
Hadir pula Rizal Gibran, pemeran Lindu Aji dalam serial legendaris Misteri Gunung Merapi era 1990-an.
Dalam sambutannya, Wahyu Hidayat dan Budiar Anwar menyampaikan terima kasih kepada KH Zain Baik yang dinilai konsisten menggelar majelis pengajian sekaligus merawat tali silaturahmi lintas agama dan lintas elemen masyarakat.
Sementara itu, Bupati Jayawijaya Atenius Murup mengaku merasakan kedamaian berada di tengah majelis tersebut. Ia bahkan menyamakan sosok KH Zain Baik dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
“Saya melihat sosok Gus Dur, bapak pluralisme tanah air, ada pada Bang Kiai Zain Baik,” ungkap Atenius yang menjuluki Gus Zain dengan Bang Kiai Zain Baik.
Sebagai umat Kristen, Atenius mengaku merasa damai duduk berdampingan dengan umat Muslim dan pemeluk agama lain. Ia menilai majelis tersebut mengajarkan indahnya persaudaraan sebangsa dan setanah air.
Atenius juga menceritakan perjalanan rombongannya dari Papua menuju Malang yang sempat terkendala cuaca ekstrem hingga harus dialihkan ke Bali sebelum akhirnya mendarat di Bandara Juanda.
“Tapi begitu sampai di majelis ini, kami sungguh bahagia dan penuh kedamaian,” tuturnya.
Ia mengapresiasi perjuangan KH Zain Baik yang dinilainya membutuhkan ketulusan dan hati yang besar, terutama dalam merawat orang dengan gangguan mental selama puluhan tahun.
“Inilah sosok langka. Sosok Bang Kiai,” ucapnya.
Suasana pengajian semakin akrab dan menghibur saat Rizal “Lindu Aji” Gibran bersama Syamsul “Basir” Gondo menyapa jamaah dengan potongan adegan akting.

Mengenakan kostum tradisional Jawa seperti dalam serial Misteri Gunung Merapi, Rizal Gibran mendemonstrasikan gerakan bela diri melawan kemungkaran, didampingi Basir yang dikenal dengan karakter humorisnya.
Rizal Gibran juga menyampaikan refleksi tentang pentingnya kejujuran, mencari ilmu, dan keikhlasan. “‘Iqra’ adalah ayat pertama dalam Al-Qur’an. Sebagai seniman, saya tertampar dan terlecut untuk belajar ilmu di Ponpes Az Zainy ini,” ujarnya.
Ia mengaku banyak belajar dari perjuangan KH Zain Baik, terutama tentang ketulusan, keikhlasan, serta kemandirian pesantren dalam mengelola usaha demi keberlangsungan Ponpes Az Zainy.
Sementara itu, dalam pesan spiritualnya, KH Zain Baik menyampaikan dua hal penting, yakni pilihan hidup dan tujuan hidup. Menurutnya, pilihan hidup akan menentukan tujuan hidup seseorang.
“Jika pilihan hidup kita adalah memberi manfaat bagi orang lain, maka tujuan hidup kita adalah menggapai rida Allah,” pesannya.
Pengajian ditutup dengan zikir dan lantunan selawat Tibil Qulub di tengah rintik gerimis, lalu diakhiri doa bersama. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Ronny Wicaksono |