TIMES KENDARI, SURABAYA – Diabetes masih menjadi jajaran penyakit kronis yang membutuhkan perhatian serius.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, prevalensi pengidap diabetes di Indonesia mencapai sebesar 11,7 persen atau melampaui rata-rata global yang sebesar 10,6 persen.
Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah penderita diabetes yang besar. Jumlah penderita diabetes mellitus pada 2021 dilaporkan mencapai 929.535 kasus. Diabetes juga sering dianggap setara dengan penyakit kardiovaskular.
Dr. dr. Soebagijo Adi, Sp.PD-KEMD, FINASIM, FACE, FACP, endokrinolog di RSUD Dr. Soetomo, menegaskan bahwa, ketika disertai diabetes, risiko penyakit kardiometabolik meningkat secara signifikan sehingga memerlukan pengelolaan kolesterol yang lebih ketat.
Hal itu ia paparkan dalam peluncuran “Dyslipidemia Treatment Surabaya Regional Launch Symposium” yang digelar Daewoong di Novotel Surabaya. Acara ini dihadiri lebih dari 100 tenaga medis Jawa Timur, Minggu (1/2/2026).
Menurutnya, pasien diabetes juga memiliki risiko kardiovaskular. Maka, kata dia, terapi kombinasi sejak dini menjadi kunci.
"Monoterapi statin sering kali memiliki keterbatasan dalam mencapai target LDL-C pada pasien diabetes, sehingga terapi kombinasi sejak dini, yang secara simultan menghambat sintesis dan absorpsi kolesterol menjadi strategi yang sangat penting,” ujarnya.
Terapi Kombinasi Dini
Simposium tersebut menghadirkan diskusi mendalam mengenai faktor risiko tinggi penyakit kardiometabolik di Jawa Timur.

Acara ini menyoroti strategi optimal dalam pengelolaan LDL-C (low-density lipoprotein cholesterol) serta membahas perkembangan klinis terbaru terkait terapi kombinasi dua mekanisme antara Ezetimibe dan Rosuvastatin.
Prof. Dr. dr. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP (K), FIHA, selaku Kepala Divisi Kardiologi dan Kedokteran Vaskular RSUD Dr. Soetomo, mengungkapkan, bahwa sekitar 91,5% pasien penyakit jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL-C kategori risiko sangat tinggi, yaitu 55 mg/dL.
"Dalam konteks ini, terapi kombinasi sejak dini dengan efektivitas yang telah terbukti merupakan strategi rasional untuk menjembatani kesenjangan terapi dan secara signifikan meningkatkan prognosis pasien," ucapnya.
Memaksimalkan Efisiensi Terapi
Pada kesempatan yang sama, Daewoong Pharmaceutical Indonesia secara resmi meluncurkan terapi kombinasi dosis tetap (fixed-dose combination/FDC) untuk pengobatan dislipidemia di Surabaya, kota terbesar kedua di
Indonesia, setelah sebelumnya diperkenalkan di Jakarta.
Peluncuran ini menjadi langkah penting dalam memperluas akses terhadap solusi terapi spesifik di Jawa Timur, wilayah dengan prevalensi diabetes yang tergolong tinggi.
Terapi Daewoong bekerja melalui kombinasi Rosuvastatin, yang menghambat sintesis kolesterol di hati, dan Ezetimibe, yang menghambat penyerapan kolesterol di usus halus.
Keunggulan utama dari terapi ini adalah kemampuannya memberikan efek penurunan LDL-C yang lebih kuat dan tetap aman, bahkan pada dosis yang relatif rendah.
Dosis Rendah Pertama di Indonesia
Daewoong menghadirkan lini produk yang komprehensif dengan tiga pilihan dosis, yaitu 10/5 mg, 10/10 mg, dan 10/20 mg, termasuk opsi dosis rendah 10/5 mg yang pertama di Indonesia.
Kehadiran variasi dosis ini memungkinkan tenaga medis memberikan terapi yang lebih presisi dan terpersonalisasi, disesuaikan dengan tingkat risiko kardiovaskular masing-masing pasien.
Dengan formulasi kombinasi dalam satu tablet, terapi ini diharapkan dapat meningkatkan kemudahan penggunaan sekaligus mengoptimalkan hasil pengobatan, khususnya
pada pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat yang rendah.
Baik In Hyun, Direktur Daewoong Pharmaceutical Indonesia, menyampaikan bahwa peluncuran ini menjadi langkah bermakna dalam memperkenalkan opsi terapi berbasis bukti ilmiah kepada tenaga medis di Jawa Timur.
“Daewoong akan terus memperkuat kerja sama dengan komunitas medis dalam negeri sebagai bagian dari komitmen kami sebagai mitra layanan kesehatan dalam upaya pencegahan penyakit
kardiovaskular dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia," ujarnya.
Dr. dr. Suryono, Sp.JP (K), FIHA, selaku Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Surabaya, pada kesempatan yang sama menyampaikan, bahwa dalam praktik klinis sehari-hari, pengobatan kerap kali belum optimal atau tidak terkontrol dengan baik.
Ia menilai terapi dislipidemia berbasis kombinasi dosis rendah dari Daewoong akan berperan penting dalam menjawab tantangan kompleks penyakit kardiometabolik. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Mengenal Dislipidemia, Solusi Terapi Kombinasi bagi Penderita Diabetes
| Pewarta | : Lely Yuana |
| Editor | : Ronny Wicaksono |